.::Selamat datang di situs Resmi Ahmad Suprapto::.

Mahasiswa Indonesia di Luar Negri

Oleh: DR. H.M. HIDAYAT NUR WAHID

Apa peran yang dapat dimainkan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di luar negri dalam memajukan pendidikan di Indonesia? Mahasiswa yang ada di luar negri mempunyai peran yang sangat strategis karena beberapa faktor. Pertama, kemampuan intelektual yang tinggi. Belajar di luar negri bukanlah sesuatu hal yang mudah. Diperlukan syarat-syarat minimal yang cukup tinggi bagi siapapun untuk dapat duduk di perguruan tinggi di Negara lain. Apalagi, bagi mereka yang mengikuti pendidikan tersebut setelah memperoleh bea siswa. Dapat dikatakan, mereka yang lolos adalah bibit unggul yang bisa diharapkan untuk menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Karena itulah, pelajar maupun mahasiswa yang belajar di luar negri adalah aset berharga bangsa Indonesia. Kemampuan intelektual yang tinggi menjadi syarat utama menciaptakan generasi pemimpin bangsa yang lebih berkualitas.

Kedua, mahasiswa mempunyai semangat yang besar. Kemampuan untuk berebut kesempatan belajar di luar negri adalah satu kelebihan. Bangku kuliah di perguruan tinggi luar negri, terutama yang diperoleh melalui jalur beasiswa, jumlahnya sangat terbatas. Diperlukan semangat yang tinggi dan keberanian menempuh resiko hidup di negri orang untuk dapat duduk di bangku bergengsi tersebut. Bagi mereka yang belajar di perguruan tinggi luar negri dengan biaya sendiri pun prosesnya tidak dapat dikatakan mudah. Baik mahasiswa dengan biaya sendiri maupun beasiswa berkesempatan belajar di luar negri karena mampu bersaing. Persaingan tersebut mereka lakukan karena tekad yang besar untuk menjadi generasi yang lebih baik, yang mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi Indonesia di masa yang akan datang.

Ketiga, mereka mempunyai kesempatan menyerap kelebihan bangsa lain. Hidup dan berbaur bersama masyarakat di negara lain memberi kesempatan mahasiswa Indonesia di luar negri untuk memahami lebih baik karakter dan cara hidup masyarakat negara bersangkutan. Pemahaman semacam itu sangat diperlukan untuk mengetahui lebih jauh kelebihan masyarakat beserta sistem kehidupan yang melingkupinya. Kelebihan-kelebihan itulah yang nantinya perlu dibawah ke Indonesia untuk disosialisasikan dan mendorong masyarakat untuk menerapkannya.Keempat, mereka berhubungan langsung dengan sumber-sumber kajian ilmu-ilmu keislaman dan sumber ilmu yang berkaitan langsung dengan bidang masing-masing yang memungkinkan untuk menjadi faktor yang dipercaya dan diunggulkan oleh ummat.

Peran semacam itu tentu saja tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak dapat dilakukan. Ada beberapa hal yang perlu diuraikan lebih jauh sehubungan dengan peran Mahasiswa di luar negri di masa yang akan datang. Pertama, menjadi pelopor perubahan di masyarakat. Tingkat intelektual yang tinggi menjadi modal yang sangat berarti bagi mahasiswa Indonesia di luar negri dalam melaksanakan peran ini. Menjadi pelopor berarti mengedepankan inisiatif. Inisiatif tidak harus muncul dari pemikiran sendiri, tetapi juga bisa saja merupakan hasil peneyerapan ketika hidup di luar negri. Cakupan masyarakat yang menjadi obyek peran ini juga tidak harus besar. Bahkan akan lebih efektif, apabila perubahan dilakukan secara bertahap dari tingkat keluarga, lingkungan tetangga, lingkungan kerja, dan baru kemudian meluas ke tingkat yang lebih tinggi. Meskipun hanya dilakukan di lingkungan terbatas, tetapi apabila setiap mahasiswa mampu menjadi pelopor di lingkungannya sendiri-sendiri, maka bukan tidak mungkin efek yang diperoleh akan sangat luas.

Kepeloporan dalam perubahan dapat dilakukan dalam semua segi kehidupan masyarakat. Mulai dari merubah cara pandang masyarakat terhadap proses politik yang lebih demokratis, perubahan kebiasaan membaca di lingkungan keluarga, iklim yang lebih terbuka, bertanggung jawab dan bermoral di lingkungan kerja, hingga perubahan sistem sosial di masyarakat menuju sistem yang menerima perubahan dengan tetap menjunjung nilai-nilai lokal.

Kedua, peran yang dapat dilakukan adalah menjadi elemen penyerap pola pikir dan cara hidup bangsa lain. Peran kedua ini memiliki hubungan lansung dengan peran pertama. Peran pertama dapat dilakukan dengan melaksanakan peran kedua secara baik. Kedua peran ini, apabila dilakukan secara tepat, akan mampu membawa perubahan positif dalam memajukan pendidikan di Indonesia di masa yang akan datang.

Ketiga, mensosialisasikan rujukan-rujukan terkini tentang studi keislaman sehingga pada gilirannya akan turut berperan meningkatkan kualitas pendidikan dan studi islam di Indonesia, yang pada giliran berikutnya akan meningkatkan kepercayaan dunia pada kualitas ulama Indonesia. Karena itulah, mahasiswa memiliki peran yang signifikan dalam hal ini. Masyarakat Indonesia membutuhakan pihak yang memberi mereka masukan, mendidik mereka tentang pola pikir dan cara hidup yang lebih baik, dan tanpa lelah terus mensosialisasikan pola pikir dan cara hidup yang lebih baik itu melalui berbagai media. Mahasiswa diharapkan selalu dapat mentransfer kepada masyarakat indonesia tentang segala sesuatu yang berpotensi membawa masyarakat indonesia menuju kehidupan yang labih baik dan lebih maju.

Mahasiswa Indonesia di luar negri misalnya dapat mensosialisasikan budaya belajar dan membaca di sana. Mereka perlu mencari tahu bagaimana sejarahnya hingga masyarakat luar negri tumbuh menjadi pecinta ilmu pengetahuan. Masyarkat Indonesia juga perlu tahu bagaimana anak-anak di Negara maju sekolah, apa yang meraka lakukan, kebiasaan membaca mereka, bagaimana sikap guru terhadap murid atau fasilitas semacam apa saja yang seharusnya ada di sekolah. Tidak ketinggalan adalah bagaimana kebijakan yang diterapkan negara dalam bidang pendidikikan.
Bagaimana pula mahasiswa indonesia yang sedang belajar di luar negri, mereka memiliki kesempatan untuk belajar lebih jauh tentang budaya bersih, tertib dan teratur yang diterapkan di negara tersebut. Intinya, mahasiswa Indonesia di luar negri harus menggubah paradigmanya tentang apa yang harus dibawa pulang. Jika di masa lalu dan kini, transfer yang dilakukan lebih pada hasilnya maka di masa yang akan dtang transfer harus dilakukan lebih pada prosesnya.

Mahasiswa Indonesia di luar negri harus mampu memaparkan latar belakang kenyataan itu. Misalnya bagaimana dukungan dunia usaha terhadap penelitian dan pemberian beasiswa untuk mahasiswa. Bagaimana peran pemerintah dan bagaimana penyelenggaran kompetisi ilmu pengetahuan maupuan kecanggihan teknologi yang kian menantang.

Berkaitan dengan kompetisi ilmu pengetahuan tentang hal ini ada yang sangat menggembirakan kita karena beberapa waktu yang lalu, generasi muda indonesia mampu merebut juara di pentas dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Mereka menjuarai perlombaan Olimpiade Sains yang diikuti 181 peserta dari 30 negara. Prestasi yang diraih itu, buah hasil kerja keras mereka, yang menjadi barometer kemajuan proses pendidikan di Indonesia. Proses pendidikan yang mengarah pada kemajuan global dapat diraih melalui pendidikan yang efektif, bermutu, dan merata.

Dari uraian singkat ini kiranya dapat disimpulkan, peran strategis mahasiswa bukan hanya sebagai pelaku perubahan (agent of change), tetapi juga inspirator perubahan serta pengarah perubahan (director of change). Saat ini, rakyat Indonesia membutuhkan peran director of change tersebut. Dalam posisinya sebagai moral force dan intelektual force, mahasiswa indonesia dapat ikut membantu memajukan dunia pendidikan nasional sehingga tujuan pendidikan seperti termuat dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa secara terpadu dapat tercapai.
----------------------------
(") . disampaikan dalam seminar Refleksi Sewindu Reformsi : Kajian Dunia Pendidikan Indonesia (28-29 Juli 2006 di Maroko), oleh : DR. H.M. HIDAYAT NUR WAHID, MA.(Ketua MPR RI).

Baca Selengkapnya......

Kesederhanaan dalam Hidup

oleh: Ahmad Suprapto

Agama Islam menganjurkan agar umatnya sentiasa hidup sederhana dalam semua tindakan, sikap dan amal. Islam adalah agama yang berteraskan nilai kesederhanaan yang tinggi. Kesederhanaan adalah satu ciri yang umum bagi Islam dan salah satu perwatakan utama yang membedakan dari umat yang lain. Ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 143: yang artinya: "Dan demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia."

Atas prinsip inilah, maka umat Islam yang sejati merupakan umat yang adil dan sederhana. Merekalah yang akan menjadi saksi di dunia dan di akhirat di atas setiap penyelewengan, penindasan serta penyimpangan ke kanan maupun ke kiri dari jalan pertengahan yang lurus.

Satu perkara yang harus kita sadari sebagai umat Islam yaitu konsep sederhana meliputi aqidah (keyakinan), aspek ibadah dan cara melaksanakannya, akhlak dan cara hidup, berinteraksi antar sesama dan segala sesuatu yang menyentuh persoalan kehidupan dunia. Rasulullah s.a.w. telah bersabda dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi: yang artinya : “ Sebaik-baik perkara ialah yang paling sederhana”.

Kesederhanaan adalah budaya yang telah diterapkan oleh Rasulullah S.A.W. Budaya sederhana dan sentiasa mendaulatkan prinsip keadilan serta kemanusiaan inilah yang membentuk generasi Islam yang begitu mantap dan berkualitas. Generasi yang dididik oleh Nabi Muhammad S.A.Wdengan ciri kesederhanaan dan penghayatan memahami Islam yang sejati berlandaskan cahaya al-Quran itulah yang akhirnya berhasil mengangkat panji-panji Islam ke seluruh dunia.

Kita telah menyadari akan pentingnya dan manfaat kesederhanaan di dalam kehidupan sehari-hari. Namun permasalahannya ialah bagaimana hendaknya kita memupuk sifat kesederhanaan dan menjalani hidup secara sederhana?

Dua hal di antara cara untuk menerapkan sifat kesederhanaan dalam diri kita. Yang pertama adalah dengan mengawal serta menundukkan hawa nafsu yang bergejolak dalam diri kita. Allah S.W.T dan Rasulullah S.A.W sering mengingatkan kita agar mengawal hawa nafsu dan tidak berlebihan di dalam melakukan sesuatu. Ini adalah karena hawa nafsulah yang selalu menjeruskan manusia ke kancah kebinasaan. Firman Allah S.W.T di dalam ayat 71 Surah Al-Mukminun:yang artinya: "Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi beserta isinya."

Disebabkan karena gagal untuk mengawal hawa nafsu ini, Kita sering melakukan pemborosan dan berlebihan. Kita berbelanja lebih daripada keperluan kita yang kita butuhkan, sedangkan masih banyak lagi yang lain yang lebih memerlukan bantuan untuk menopang kehidupan mereka.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya pemborosan itu hanyalah mendekatkan kita kepada syaitan dan menjauhkan kita dari Allah S.W.T. Firman Allah di dalam Surah Al-Isra` ayat 27 : Yang artinya: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Yang kedua yaitu menjiwai sifat kesederhanaan. Kita harus bijaksana dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Dengan sikap tersebut kita dapat mengetahui dengan pasti perkara-perkara yang lebih memerlukan perhatian dan tumpuan masa, tenaga ataupun uang. Tanpa mengetahui dengan pasti perkara-perkara yang harus didahulukan maka kita akan lebih cenderung untuk mengikut hawa nafsu sehingga mengakibatkan kita untuk gagal di dalam mengimbangi urusan kehidupan. Rasulullah S.A.W pernah bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:yang artinya: “Tidak akan susah bagi siapapun yang sederhana dalam perbelanjaan”.

Rasulullah S.A.W telah menerangkan bahawa orang yang bersederhana dalam perbelanjaan tidak akan hidup kesusahan. Bagaimana tidak, Mereka membelanjakan harta mereka dalam jalan yang benar. Mereka merancang perbelanjaan mereka. Mereka bukanlah orang yang kikir. Mereka pula bukanlah orang yang suka belanja mengikuti keinginan hati. Inilah sifat hamba-hamba Allah yang sejati. Allah S.W.T telah berfirman di dalam surah Al-Furqan Ayat 76 :“Dan mereka (Hamba Allah) apabila berbelanja tidak berlebihan dan mereka bukanlah pelit dalam berbelanja. Merekalah yang seimbang di antara dua perkara ini”.

Harta yang ada adalah nikmat Allah S.W.T. Setiap nikmat yang Allah berikan harus digunakan dengan penuh kebijaksanaan dan hikmah. Janganlah kita menjadi golongan yang sombong, kikir dan juga tamak akan harta dunia sehingga lupa bahwa Allah lah yang memberikan kita nikmat ini. Jangan pula kita menjadi golongan yang terlalu berlebihan dalam berbelanja, sehingga kita menjadi orang yang boros. Agar kelak tidak akan mendapat kerugian di dunia dan di akhirat.

Allah S.W. T telah berfirman dalam surah Al Isra’ Ayat 29, yang menerangkan mengenai dua golongan yang rugi ini: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu Pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” Mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kejayaan di akhirat adalah merupakan impian Setiap orang yang beriman. Sifat kesederhanaan merupakan kunci bagi kejayaan kita nanti di dunia ini dan di akhirat.
Marilah sama-sama kita terapkan sifat kesederhanaan dalam diri kita dan kelaurga. Semoga dengan sifat kesederhanaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita menjadi umat yang seimbang serta bahagia di dunia dan di akhirat kelak.

Baca Selengkapnya......
Original Design by : x-template.blogspot.com.

Modified by :Ahmad suprapto.